![]() |
| Poster ini dipresentasikan di Konferensi Nasional Skizofrenia ke-7 di Trans Luxury Hotel, Bandung, 28 Maret 2014. |
Abstrak
Diskinesia tardif dianggap sebagai efek samping yang paling serius dari penggunaan jangka panjang antipsikotik karena prevalensinya yang tinggi dan sebagian besar ireversibel serta refrakter terhadap pengobatan. Diskinesia tardif dapat menyebabkan cara bicara yang sulit dipahami dan gangguan nafas jika mengenai diafragma, dimana gangguan ini sering menimbulkan rasa malu, rasa bersalah, amarah, dan depresi. Pada pasien-pasien yang gangguan psikotiknya terkontrol dengan baik, diskinesia tardif dapat membatasi reintegrasi pasien kembali ke masyarakat atau tempat kerja.
Sekitar 20-30% pasien psikotik yang mendapat antipsikotik jangka panjang mengalami diskinesia tardif. Diketahui beberapa faktor risiko yang terkait di antaranya antipsikotik golongan tipikal, pemakaian lama, usia muda atau usia di atas 50 tahun, jenis kelamin wanita, penderita gangguan mood, dan penggunaan kronis antikolinergik.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran penderita diskinesia tardif akibat neuroleptik di Rumah Sakit Pendidikan Universitas Hasanuddin dan jejaringnya di Makassar dengan menggunakan desain deskriptif analitik melalui pendekatan cross sectional. Diagnosis diskinesia tardif akibat neuroleptik pada subyek penelitian ditegakkan dengan kriteria DSM IV-TR, dan tingkat keparahannya diukur secara kuantitatif dengan Abnormal Involuntary Movement Scale (AIMS). Data demografis dan skor AIMS dikumpulkan dan diolah dengan program komputer.
Sampel berhasil dikumpulkan dari dua rumah sakit pendidikan Ilmu Kedokteran Jiwa utama di Makassar yaitu RS Wahidin Sudirohusodo dan RS Khusus Daerah Provinsi Sulawesi Selatan. Total pasien yang mendapat terapi neuroleptik jangka panjang (>3 bulan) adalah 634 orang dan yang mengalami diskinesia tardif sebanyak 43 pasien atau 7%. Dari 43 subyek penelitian, 35 orang pasien laki-laki dan hanya 8 perempuan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa diskinesia tardif akibat neuroleptik paling banyak terjadi pada penderita skizofrenia, pasien dengan terapi antipsikotik tipikal, serta yang mendapat juga antikolinergik jangka panjang. Skor AIMS tertinggi didapatkan pada usia lanjut dan yang lebih lama menggunakan antipsikotik. Tidak tampak pola yang jelas tingkat keparahan gangguan gerak pada jenis dan dosis antipsikotik, namun jelas bahwa yang menggunakan risperidon memiliki skor AIMS yang rendah.
Perlu penelitian lebih lanjut dengan desain penelitian analitik untuk dapat menemukan hubungan antar variabel maupun faktor-faktor lainnya yang kemungkinan berperan dalam perbedaan yang ditemukan disini dengan hasil penelitian di tempat lain.

No comments:
Post a Comment