Friday, January 31, 2014

Book Review - Brain Management for Self Improvement

Pengarang :  dr. H. Taufiq Pasiak, M.Pd.I, M.Kes
Penerbit :  PT Mizan Pustaka
Tahun Terbit :  2007

Bekerja sebagai dosen Neuroanatomi, Neurosains, dan Agama Islam di Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, dr.Taufiq Pasiak menulis buku ini saat masih sebagai kandidat doktor di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Buku ini mendapat apresiasi dan kuotasi dari berbagai kalangan dan tokoh terkemuka, dan memang merupakan buku yang memuat materi berat dengan bahasa yang ringan dan enak dibaca.
Dibagi menjadi 6 bagian, 59 bab ringkasnya memuat materi yang padat, ringkas, namun kaya untuk mencapai tujuannya memberi pencerahan dalam upaya manajemen otak untuk pengembangan diri, dimana intinya telah termaktub dalam bab pengantarnya yang berjudul : “Ubah dirimu, maka bangsamu akan berubah.”
Membuat suatu sinopsis dari buku ini tidak mudah karena demikian padatnya materi yang disusun dalam buku ini. Maka hanya beberapa butir-butir penting yang menarik yang akan saya ambil menjadi bunga rampai.

Pengantar
Tiga prinsip paradigma baru dalam memandang ilmu pengetahuan yaitu
1. Interdependensi : semua yang ada di alam semesta ini saling bergantung dan terhubung.
2. Diferensiasi : terdapat dorongan kontinu dari setiap komponen alam semesta untuk menghasilkan keanekaragaman.
3. Pengaturan diri : bahwa setiap benda hidup di alam semesta memiliki suatu potensi bawaan untuk mempertahankan diri dan melanggengkan dirinya.
Ketiga prinsip ini berperan penting dalam cara pendekatan baru terhadap fenomena kehidupan, bandingkan dengan tiga prinsip klasik sains yaitu (1)objektivisme (apa yang tampak oleh pengamat begitulah adanya, apa yang tidak dapat diamati tidak dapat menjadi kajian sains), (2)determinisme (segala sesuatu memenuhi hukum sebab akibat yang berarti semua dapat diramalkan efeknya), dan (3)reduksionisme (suatu keseluruhan dapat diamati dari bagian demi bagian. Prinsip-prinsip ini terbukti kini keliru.
Konsep The 9’s Brain Order (TBO) yang dikemukakan penulis di sini bertumpu pada empat kapasitas mental yang dimiliki manusia yaitu tubuh, akal, nafsu, dan ruh, dan merupakan suatu tool untuk manajemen kecerdasan melalui suatu sistem yang disebut The Whole Brain Thinking (WBT). Penekanan dilakukan pada perubahan mindset, pada cara pandang seseorang memandang dunia dan peristiwa.
1.     Living Brain – Otak adalah ekosistem hidup yang dinamis: berubah sepanjang waktu, jika dipakai otak akan tumbuh, jika tidak dipakai otak akan aus.
2.      Multipotent Brain – Bakat, kecenderungan, dan kecerdasan terstruktur secara potensial dalam otak.
3.      Nutritional Brain – Nutrisi memberi pengaruh bagi otak, baik struktur maupun fungsinya.
4.      Muscular Brain – Terdapat hubungan saling mempengaruhi antara otak dan otot.
5.   Rational Intuitive Brain – Korteks serebri merupakan bagian otak yang berkembang paling baik pada manusia.
6.  Relational Brain – Otak menyediakan piranti yang mem-backup kegiatan emosional dan relasional manusia.
7.      Spiritual Brain – Otak membuat pengalaman perseptif memiliki muatan nilai, makna, dan emosi.
8.      Sexual Brain – Otak lelaki dan perempuan berbeda dalam struktur dan fungsi.
9.      Subconcious Brain – Perilaku dan tindakan manusia dapat diarahkan oleh informasi bawah sadar.

Bagian I – Sifat-sifat Otak: Temuan Neurosains
            Bagian ini seperti judulnya membahas mengenai sifat-sifat otak dipandang dari beberapa aspek, yang saya rangkum menjadi :
1.      Aspek perkembangan otak
Ada lima keunikan berkaitan dengan perkembangan otak manusia sejak masa bayi, yaitu :
  • Melihat suara, mendengar warna. Kemampuan sinestesia ini secara unik ada pada bayi dan menghilang pada masa dewasa. Pada otak bayi terdapat hubungan antara retina mata dengan talamus yang mengurusi suara.
  • Emosi tidak sadar. Bayi menunjukkan respons berbeda untuk setiap rangsang emosi yang kita berikan secara tidak sadar karena pusat pikiran sadar pada korteks belum terbentuk. Hal ini membuktikan bahwa respons emosi tidak perlu dipelajari terlebih dahulu. Di masa dewasa seiring dengan berkembangnya kehidupan, kita sering menunjukkan perbedaan antara tampilan wajah dan isi perasaan kita.
  • Ingatan emosional. Kejadian-kejadian yang diallami di bawah usia 3 tahun sangat sulit diingat oleh anak karena tempat penyimpanan memori kognitif (hipokampus) belum terbentuk sempurna, sementara tempat penyimpanan memori emosi (amigdala) relatif sudah terbentuk sempurna saat lahir. Karena itulah untuk mendidik bayi di bawah 3 tahun butuh rangsangan yang bersifat emosional.
  • Ingatan tempat. Dibandingkan korteks serebri lainnya, korteks parietal lebih dulu berkembang pada bayi, dimana bagian otak ini berfungsi mengatur kegiatan yang berkaitan dengan pemetaan ruang, tempat, dan mental imaging.
  • Kemampuan berbicara. Bayi dapat memahami pembicaraan kita meskipun dia tidak dapat memberi respons verbal karena area Wernicke lebih dulu berkembang daripada area Broca.
2.      Aspek psikoneurobiologi
Penelitian Erick Kandel (2002) menemukan bahwa terjadi modifikasi sinaps dan neurotransmiter yang dilepas di ujung saraf akibat pengkondisian stimulus, berarti dengan melakukan pengkondisian molekul-molekul kimia yang berkaitan dapat ditata. Psikoterapi dan pendidikan dapat mengubah biometabolisme neurotransmiter dan biostruktur sinaps.
3.      Aspek biomolekuler
Membahas peran neurotransmiter dalam regulasi fungsi-fungsi otak.
4.      Aspek fisiologi neuroanatomi (dominansi otak)
  1. The Triune Brain menurut Paul McLean terdiri dari :
·  Lapisan neomamalia, merupakan lapisan otak yang paling akhir muncul. Lapisan ini bertanggungjawab untuk kegiatan berpikir tingkat tinggi, antara lain persepsi dan bahasa. Lapisan ini hanya ada pada mamalia tertentu dan paling lengkap pada manusia. Lapisan ini disebut penulis sebagai “otak berpikir”, dan relatif memiliki kemampuan untuk memilih respons.
·         Lapisan paleomamalia, selain pada manusia ditemukan pula pada hampir semua binatang. Pada otak manusia lapisan ini mencakup sistem limbik yang bertanggungjawab untuk pengaturan emosi. Penulis menyebutnya sebagai “otak binatang”, dimana respons yang timbul dari sini hanya dua pilihan “fight” (bertarung) atau “flight” (lari) sebagai respons yang timbul cepat akibat rangsang yang mengancam keberadaan kita.
·         Otak reptil, berfungsi mendukung kegiatan vegetatif tubuh manusia seperti bernafas dan pengaliran darah, disebut penulis sebagai “otak vegetasi”. Disini diatur pula keterjagaan melalui sistem RAS (Reticular Activating System).

  1. Empat Kuadran Otak menurut Ned Hermann
Sudut pandang kita melihat sebuah peristiwa berkaitan dengan otak mana yang berperan. Instrumen yang disebut The Hermann Brain Dominance Instrument (HBDI) membagi otak menjadi empat kuadran yaitu :
·        Kuadran A yang terletak pada otak kiri atas bekerja dengan mengacu pada FAKTA (fakta apa saja yang ada).
·    Kuadran B yang terletak pada otak kiri bawah berkaitan dengan FORM (bagaimana sebuah peristiwa berlangsung).
·       Kuadran C yang terletak pada otak kanan bawah dihubungkan dengan FEELINGS (bagaimana suasana psikologis yang timbul).
·     Kuadran D yang terletak pada otak kanan atas berkaitan dengan FUTURES (bagaimana efek suatu kejadian terhadap hal-hal lain).
Hemisfer kiri dan kanan otak bagian atas dihubungkan corpus callosum, otak bagian bawah yang merupakan sistem limbik terbagi menjadi kiri dan kanan oleh commissura hipocampus, sementara otak bagian korteks dan sistem limbik di atas dan di bawah terhubung satu sama lainnya. Inilah yang dibagi menjadi empat kuadran oleh Herrmann.

  1. Otak Kiri-Otak Kanan
Otak kiri jauh lebih bagus untuk tugas analisis dalam bentuk unit-unit kecil (bagian-bagian, frasa dan kata, angka-angka), sementara otak kanan lebih bagus dalam pemikiran global dan menyeluruh.
5.      Aspek fisika
Rangsangan elektrik pada bagian tertentu otak berhasil memicu sikap dan perilaku tertentu.

Bagian II – Otak dan Spiritualitas
Bab-bab dalam bagian ini membahas mengenai pembuktian konsep spiritualitas dalam hubungannya dengan otak organik. Penelitian Ramachandran dan Persinger yang menunjukkan adanya aktivitas gelombang otak di daerah temporal dengan kegiatan yang bersifat mistik menjadi dasar disebutnya lobus temporal sebagai the God Spot, sementara Linnas dan Pare (2000) menemukan sebuah osilasi gelombang otak 40Hz yang secara unik jika timbul getaran ini akan memadukan seluruh bagian otak yang terlibat ketika merespons sebuah stimuli dan ini diyakini terjadi akibat rangsang yang bersifat spiritual.
Danah Zohar dan Ian Marshal (2004) menyimpulkan ada 6 sikap utama yang ada pada semua ajaran agama/spiritual yaitu (1)Kearifan dan pengetahuan; (2)Keberanian; (3)Cinta dan kemanusiaan; (4)Keadilan; (5)Kesederhanaan; (6)Spiritualitas dan transendensi. Penelitian-penelitian mengenai spiritualitas menyimpulkan bahwa kecenderungan manusia menjadi makhluk spiritual ternyata merupakan bawaan, sehingga dari sudut pandang ini kita bisa menyimpulkan pula bahwa perbedaan agama bukanlah natur manusia. Agama hanyalah sarana untuk memberikan bentuk dan cara kepada pengenalan akan Tuhan.
Modal spiritual oleh Danah Zohar, seorang pakar yang memperkenalkan dan meneliti soal-soal Kecerdasan Spiritual (Spiritual Inteligence) dan Modal Spiritual (Spiritual Capital) didefinisikan sebagai modal yang diperoleh dari pengabdian pada makna yang dalam, dari pengabdian pada kepedulian yang mendalam akan tujuan, dan dari pengabdian akan nilai-nilai fundamental manusia, dimana modal ini tidak diukur berdasarkan jumlah uang atau materi. Untuk mencapai pemaknaan ini, kita harus punya konsep re-framing dimana dalam setiap peristiwa yang kita alami termasuk yang buruk kita dapat membingkainya dengan sesuatu yang baru sehingga mendapat pengertian baru yang lebih segar.
Mengekspresikan kebaikan hati tidak saja membuat hati menjadi lebih baik, tapi juga resep yang manjur bagi kesehatan. Penelitian pada 1700 perempuan di kota New York menemukan bahwa perempuan-perempuan yang secara teratur bekerja sebagai penolong orang lain menunjukkan berkurangnya keluhan-keluhan fisik seperti sakit kepala, kehilangan suara, dan rasa nyeri akibat penyakit serta depresi. Sembilanpuluh persen perempuan-perempuan ini memiliki kesehatan yang lebih baik daripada perempuan lain seumur mereka.
Cara sederhana mengontrol diri adalah dengan berbicara seperlunya, makan secukupnya, dan tidur sekadarnya. Pada bagian akhir dari proyek pengubahan diri, kita mengukur dengan empat hal yaitu happiness (apakah kita senang dengan apa yang kita lakukan), achievement (setiap tindakan yang dilakukan merupakan sebuah prestasi besar), significance (apakah yang dilakukan telah memberi manfaat kepada orang lain), dan legacy (bagaimana kita mewariskan sesuatu yang bernilai bagi generasi mendatang).

Bagian III – Otak dan Berpikir
Filsuf dan penulis Milton dalam karyanya Paradise Lost menyatakan bahwa pikiran dapat membuat surga dari neraka dan neraka dari surga. Mistikus dan pemusik India, Hazrat Inayat Khan bahkan berpendapat bahwa you are what you think you are. Ahli otak Marian Diamond lebih hebat lagi dengan menyatakan bahwa pikiran dapat mengubah takdir.
Beberapa hal dapat mencederai pikiran kita setiap hari. Ada enam hal yang dapat menyesatkan pikiran kita :
  • Cenderung merasa paling tahu dan paling benar (Egocentric righteousness)
  • Cenderung tidak mau memperlajari, mencari tahu, atau menambah wawasan akan hal-hal lain yang bertentangan dengan apa yang kita yakini. (Egocentric myopia)
  • Cenderung menjustifikasi langsung berdasar memori dalam otak kita yang mendukung gagasan tertentu. (Egocentric memory)
  • Cenderung tidak mempercayai fakta atau data yang menggugat apa yang sudah kita percayai sebelumnya sekalipun fakta itu akurat dan dapat dipertanggungjawabkan. (Egocentric blindness)
  • Cenderung membuat generalisasi secepat mungkin atas setiap perasaan dan pengalaman kita. (Egocentric immediacy atau overgeneralisation)
  • Cenderung mengabaikan hal-hal yang terasa rumit dan kompleks dalam upaya memperbaiki diri. (Egocentric oversimplification)

Bagian IV – Otak dan Emosi
Menurut Berkowitz “agresi” dibagi menjadi “agresi instrumental” yaitu dimana seseorang melakukan agresi sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu, dan “agresi emosional” dimana kekerasan dilakukan memang untuk menyakiti orang lain. Robert Hare mengidentifikasi 8 gejala perilaku seseorang yang dikategorikan sebagai “psikopat”, yaitu :
1.      Memiliki keahlian untuk menjadi pusat perhatian
2.      Egosentrik dan megalomania
3.      Hidup sebagai parasit
4.      Manipulatif dan curang
5.      Tidak merasa bersalah dan menyesal
6.      Tidak dapat berempati
7.      Tidak bertanggungjawab
8.      Impulsif
Oleh Sang Pencipta otak kita sudah ditata sedemikian rupa agar kulit otak (rasio) dapat mengontrol amigdala (emosi). Kita hanya perlu pembiasaan dan latihan untuk sesering mungkin memakai rasio dari emosi. Karena itu tahap awal perubahan diri bukanlah pada bangkitan sentimen emosional tetapi pada pengenalan cara berpikir, cara kita mempersepsi persoalan. Mulailah dengan tidak gampang curiga, optimistis, dan melihat hal-hal positif dari setiap kejadian. Kepercayaan akan tinggi jika keyakinan diri tinggi.

Bagian V – Otak dan Seks
Struktur neurologis yang terlibat dalam pengalaman spiritual adalah juga struktur yang terlibat dalam pengalaman seksual. Masuk akal jika kesamaan sirkuit sarafi yang dipakai ini mewujud juga dalam ekspresi bahasa yang relatif sama. Kepuasan hati (ridha), kerinduan (syauq), dan keintiman (uns) adalah trilogi yang mewujud dalam tingkatan yang tertinggi yang disebut Cinta. Dari tahap cinta yang intim seorang mistikus akan mengalami ma’rifat dimana ia akan mampu menyingkap keindahan Allah dan menyatu denganNya.
Hubungan seks yang dilakukan dalam perasaan cinta dan keterikatan yang dalam dengan pasangan yang sah akan direspon oleh tubuh dengan oksitosin dan vasopresin yang terbukti bekerja pada sistem kekebalan yang lebih baik serta tekanan darah yang relatif lebih rendah. Hormon-hormon ini dikelola oleh sistem limbik (hipotalamus, amigdala, hipokampus).
Suatu daerah di hipotalamus bernama preoptic medial area (POMA), berukuran lebih besar pada lelaki, dan diketahui berhubungan erat dengan perilaku seksual. Area ini menerima signal dari bagian kortikomedial dan basolateral amigdala yang mengurus emosi, hal ini menjelaskan mengapa jika area ini terangsang pada lelaki, perilaku seksual yang timbul cenderung agresif dan penguasaan terhadap pasangan. Ketika signal yang diterima cukup kuat, rangsang akan melewati POMA menuju korteks serebri untuk mempersiapkan pilihan tindakan yang akan merespon rangsangan tersebut, di saat yang sama signal dikirim ke batang otak untuk memicu ereksi penis. Pusat motorik pada korteks akan memandu gerakan dalam hubungan seks dan dalam puncak kenikmatan, nukleus dorsomedialis pada hipotalamus akan memicu keluarnya sperma (ejakulasi).
Monatella Marazitti membandingkan kadar serotonin orang yang sedang jatuh cinta dalam enam bulan terakhir dengan orang yang tidak kasmaran dengan kadar serotonin penderita OCD, hasilnya kadar serotonin pada orang yang jatuh cinta dan penderita OCD turun hingga 40% di bawah normal. Helen Fisher menggunakan MRI menemukan pada orang yang jatuh cinta, bagian otak bernama ventral tegmental area (VTA) dan nukleus kaudatus menjadi lebih aktif, area ini memproduksi dopamin yang berperan dalam jalur mesolimbic reward pathway yang berfungsi menimbulkan perasaan ingin lagi dan lagi seperti dalam kondisi kecanduan.

Bagian VI – Otak, Musik, dan Gerak
Keampuhan berpikir—yang memadukan rasionalitas, intuisi, dan emosionalitas—merupakan kemampuan yang sangat hebat dan tidak terbatas. Rata-rata ilmuwan besar adalah penyuka musik bahkan pemain musik yang terampil. Musik memang membantu proses transmisi pesan yang berlangsung di ujung-ujung saraf. Gelombang otak yang berada pada posisi alfa memungkinkan pemaduan, pengkondisian, dan konsolidasi semua pesan yang masuk. Gunakanlah otak kiri untuk memahami liriknya dan otak kanan untuk menikmati iramanya.
Otak dan otot saling berhubungan erat. Fakta penelitian menunjukkan bahwa makin sering kita bergerak, makin baik daya ingat dan kewaspadaan kita. Latihan fisik mempengaruhi otak melalui 3 cara :
1.      Meningkatkan aliran darah ke otak sehingga otak mendapat tambahan darah
2.   Meningkatkan produksi hormon nerve growth factor (NGF) yang dapat meningkatkan fungsi otak melalui rangsangan perkembangan sel-sel saraf
3.      Meningkatkan produksi neurotransmiter dopamin yang mempengaruhi suasana perasaan
Sel-sel saraf dipicu untuk merespons hal-hal baru.Hal-hal baru dan variatif membuat sel saraf otak membentuk hubungan sinaptik yang baru dan banyak. Neurobics dapat dilakukan dengan mengacu pada 3 prinsip:
1.      Gunakan semua indera anda dalam mengenal sesuatu. Jangan hanya mengandalkan mata atau telinga.
2.      Melepas rutinitas. Gantilah cara anda melakukan sesuatu, cobalah teknik-teknik baru.

3.  Lepaskan diri dari keterikatan pada memori-memori yang sudah lazim. Pertajamlah otak dengan informasi-informasi baru, aneh, dan unik.

No comments:

Post a Comment